Pages

Kamis, 24 November 2011

Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar


Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar


        MAKALAH 
             PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
         Untuk memenuhi mata kuliah sumber belajar
          Yang Dibina oleh Bapak Dr.Amat Nyoto ,M.Pd. 



          Oleh 

         







FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
S1 PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Nopember  2011





KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan tidak menemui kendala yang berarti.
Dalam penyusunan makalah ini tentu saja tidak terlepas dari bantuan dan perhatian serta dukungan dari semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah Sumber Belajar “ PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR “. Maka dari itu, saya menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Dr.Amat Nyoto ,M.Pd. selaku dosen mata kuliah Sumber Belajar.
Akhirnya tiada gading yang tak retak, saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat untuk yang membacanya.

                                                                                            Malang,  Nopember 2011

         Penyusun









LATAR BELAKANG

Keberadaan perpustakaan sekolah di lingkungan sekolah masih kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya pertumbuhan perpustakaan pada lembagapendidikan, khususnya pada tingkat Pendidikan Menengah dan Pendidikan Dasar. Dari 175.268 unit sekolah diseluruh Indonesia, baru 12.620 sekolah yang memiliki perpustakaan. Untuk SD baru 5 % yang mempunyai perpustakaan sekolah, SMP sekitar 42% dan SMU sekitar 68% (Suara Merdeka, Rabu 9 Juni 2004).
Kondisi ini menyiratkan bahwa perhatian penentu kebijakan di lingkungan sekolah belum memprioritaskan perpustakaan sekolah sebagai program sekolah yang perlu diperhatikan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Sementara itu dalam kurikulum tahun 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyiratkan perlunya peningkatan peran perpustakaan sekolah sebagai penunjang kegiatan belajar siswa dan guru.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan menutut guru untuk lebih aktif dalam mengembangkan pembelajaran khususnya dalam mengembangkan indikator pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Untuk itu pada setiap satuan unit sekolah perlu didukung adanya perpustakaan yang mampu berfungsi dengan baik.
Secara sederhana pengertian perpustakaan adalah salah satu bentuk organisasi sumber belajar yang menghimpun berbagai informasi dalam bentuk buku dan bukan buku yang dapat dimanfaatkan oleh pemakai (guru, siswa, dan masyarakat) dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kecakapannya. Menurut Wiryokusumo (dalam Darmono,
2004) dengan memanfaatkan perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi untuk memecahkan berbagai masalah, sumber untuk menentukan kebijakan tertentu, serta berbagai hal yang sangat penting untuk keperluan belajar.
Jika ditilik dari pengertian tersebut, hakikat perpustakaan adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya. Perpustakaan dapat pula diartikan sebagai tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai media belajar siswa. Wafford (dalam Darmono, 2004) menterjemahkan perpustakaan sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola, dan memberikan
layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum.
 Lebih luas lagi pengertian perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan. Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran.
Banyak batasan atau pengertian tentang perpustakaan yang disampaikan oleh para pakar di bidang perpustakaan.
 Anda dapat mempelajari beberapa pengertian perpustakaan seperti di bawah ini :
·         Menurut kamus “ The Oxford English Dictionary”,kata “library” atau perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1374, yang berarti sebagai “ suatu tempat buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan”.
·         Pengertian perpustakaan ini pada abad ke-19 berkembang menjadi “ suatu gedung,ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yanng dipelihara dengan baik,dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu.
·         Dalam perkembangannya lebih lanjut, pengertian perpustakaan memperoleh penghargaan yang tinggi, bukan sekadar suatu gedung yang berisi koleksi buku yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
·         Pada tahun 1970, The American Library Association menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu termasuk pengertian “ pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan “.
·         Dalam pengertiannya yang mutakhir, seperti yang tercantum dalam Keputusan Presiden RI nomor 11, disebutkan bahwa “ perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

Perkataan pustaka lebih luas maknanya dari perkataan buku. Bahan pustaka dapat berupa naskah, gambar, kaset, film, slide, rontal, dan sebagainya.
Secara sederhana Mujani A. Nurhasi dalam bukunya  Sejarah Perpustakaan Dan Perkembangannya Di Indonesia memberikan pengertian sebagai berikut :
Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat mengumpulkan, menyimpan, dan memelihara koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu, untuk digunakan secara kontinyu sebagai sumber informasi.
Dari pengetian tersebut, terlihat adanya lima unsure pokok yang terkandung dalam pengertian perpustakaan, yaitu
a.       Tempat mengumpulkan, menyimpan, dan memelihara koleksi bahan pustaka
b.      Koleksi bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu
c.       Bahan pustaka digunakan secara kontinyu oleh para pemakai
d.      Meruakan sumber informasi
e.       Merupakan suatu unit kerja
Dengan pengertian yang kita pakai tentang perpustakaan. Jadi bukan sembarang waktu  kita sebut dengan perpustakaan, pun juga tidak sembarang tempat pengumpulan buku kita sebut perpustakaan, melainkan harus ada ketentuan system penyusunan yang mempunyai tujuan tertentu.

Didalam perustakaan selalu ada :
a.       Buku- buku yang diatur dalam golongannya
b.      Tempat atau rumah yang khusus untuk menyiapkannya
c.       Pegawai yang memelihara serta ada anggota-anggota yang meminjam buku-buku tersebut

A.    FUNGSI-FUNGSI PERPUSTAKAAN MENURUT JENISNYA.
Perpustakaan Nasional RI, menurut Keputusan Presiden nomor 11 tahun 1989,pasal 3 ,menyelenggarakan fungsi :
a. .membantu Presiden dalam rangka merumuskan kebijaksanaan mengenai pengmbangan,pembinaan dan pendayagunaan perpustakaan.
b. melaksanakan pengembangan tenaga perpustakaan dan kerjadsama antara badan/lembaga termsuk perpustakaan didalam maupun diluar negeri
c. melaksanakan pembinaan atas semua ejnis perpustakaan di instansi/lembaga pemerintah maupun swasta yang ada dipusat ataupun didaerah
d. melaksanakan pengumpulan,penyimpanan, dan pengolahan bahan pustaka dari dalam dan luar negeri
e. melaksanakan jasa perpustakaan, perawatan danpelestarian bahan pustaka
f. melaksanakan penyusunan naskah bibliografi nasional dan katalog induk nasional
g.  malaksanakan penyusunan bahan rujukan berupa indeks,bibliografi,subyek,abstrak dan penyususnan perangkat lumak bibiliografi.
h. melaksanakan jasa koleksi rujukan dan naskah
j. melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh Presiden


1.      Fungsi Perpustakaan Daerah
Disamping,Perpustakaan Daerah yang merupakan suatu organaisasi dilingkungan Perpustakaan Nasional RI yang berada di daerah , menurut Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI nomor 001/Org/9/1990, tentang Organisasi dan Tata Kerja Perpustakaan Nasional RI, mempunyai fungsi :
a.       mempersiapkan bahan perumusan kebijaksanaan pembinaan dan pengembangan perustakaan di daerah.
b.      melaksanakan pembinaan dan pengembangan pada semua jenis perpustakaan di daerah
c.       melaksanakan pengeumpulan, penyimpanan, dan pengolahan bahan pustaka
d.      melaksanakan jasa perpustakaan, perawatan dan pelestarian bahan pustaka
e.       melaksanakan penyususnan dan penerbitan bibliobgrafi daerah dan katalog induk daerah
f.       melaksanakan penyususnan bahan rujukan berupa indeks,bibliografi,subyek, abstrak dan direktori
g.      melaksanakan jasa informasi dan rujukan (referensi)
h.      melaksanakan kerja sama antar perpustakaan di daerah
i.        melaksanakan koordinasi dan evaluasi kegiatan perpustakaan di daerah
j.        melaksanakan urusan ketatausahaan

2.      Fungsi Perpustakaan Umum dan Keliling
Perpustakaan Umum baik yang berada di Daerah Tingkat II (Ibukota Kabupaten/Kotamadya), di ibukota kecamatan maupun yang berada di desa, menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 9 tahun 1988 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 21 tahun 1988, mempunyai fungsi :
a.       menghimpun dan mengolah bahan pustaka dan informasi
b.      memelihara danmelestarikan bahan pustaka dan informasi
c.       mengatur dan mendayagunakan bahan pustaka dan informsi, sebagai pusat kegiatan belajar, pelayanan informasi, penelitian dan menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca bagi seluruh lapisan masyarakat
Perpustakaan Keliling berfungsi sebagai perpustakaan umum yang melayani kebutuhan informasi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan perpustakaan umum. Pada hakikatnya fungsi Perpustakaan Keliling sama dengan Perpustakaan Umum . Perpustakaan Keliling merupakan kepanjangan layanan Peprustakaan Umum.
3.      Fungsi Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan Sekolah menurut Keputusan Menteri Pendidiknan dan Kebudayaan nomor 0103/O/1981, tanggal 11 Maret 1981, mempunyai fungsi sebagai :
a.       Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah
b.       Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.
c.       Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan)
Semua fungsi tersebut akan tergambar dalam koleksi pepustakaan bersangkutan
Melalui penyediaan perpustakaan, siswa dapat berinteraksi dan terlibat langsung baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar. Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan, dimana bersama-sama dengan komponen pendidikan lainnya turut menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. melalui perpustakaan siswa dapat mendidik dirinya secara berkesinambungan.


Secara umum perpustakaan sekolah sangat diperlukan keberadaanya dengan pertimbangan bahwa:
a.     perpustakaan merupakan sumber belajar,
b.     merupakan salah satu komponen sistem instruksional,
c.     sumber untuk menunjang kualitas pendidikan dan pengajaran,
d. sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan siswa dapat  mempertajam   dan memperluas kemampuan untuk membaca, menulis, berpikir dan berkomunikasi.

Jika dikaitkan dengan pengertian sumber belajar, maka perpustakaan merupakan salah satu dari berbagai macam sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekolah. Mengacu pada definisi sumber belajar yang diberikan oleh Association for Education Communication Technology (AECT) maka pengertian sumber belajar adalah berbagai sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar baik yang digunbakan secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.
Ditinjau dari segi pendayagunaan, AECT membedakan sumber belajar menjadi dua
macam yaitu:
a.   sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar yang dirancang tersebut dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video dan sebagainya yang memang dirancang untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran tertentu,
b. sumber belajar yang tidak dirancang atau tidak sengaja dibuat untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Jenis ini banyak terdapat disekeliling kita dan jika suatu saat kita membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya. Contoh sumber belajar jenis ini adalah tokoh masyarakat, toko, pasar, museum.

Mengacu pada definisi AECT tentang sumber belajar, maka sumber belajar jenis pertama yaitu sumber belajar yang sengaja dibuat untuk membantu pencapaian tujuan belajar perlu disimpan untuk didayagunakan secara maksimal. Penyimpanan berbagai sumber belajar tadi ditempatkan dan diorganisasikan di perpustakaan. Dengan demikian maka perpustakaan merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan di lingkungan berbagai lembaga, termasuk sekolah guna membantu tercapainya setiap upaya pembelajaran..

B. Kelembagaan Perpustakaan Sekolah
Sebenarnya yang paling hakiki dari perpustakaan adalah bagaimana menciptakan kondisi di sekolah melalui perpustakaan agar dapat membantu warga sekolah dalam proses belajar mengajar. Lebih jauh diharapkan perpustakaan sekolah dapat menciptakan atmosfir sekolah yang kondousif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Melalui perpustakaan sekolah dapat mendorong tumbuhnya daya kreasi dan imajinasi anak melalui berbagai bacaan yang tersedia di perpustakaan. Untuk bisa menciptakan kondisi tersebut kelembagaaan perpustakaan sekolah haruslah dapat mendukung peran dan tugas yang harus
diembanggnya.
Secara umum kelembagaan perpustakaan sekolah masih mengalami kendala yang disebabkan berbagai faktor sebagai berikut:
1. Belum dipikirkannya posisi pepustakaan sekolah sebagai unit yang strategis    dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah.
2. Minimnya dana operasional pengelolaan dan pembinaan perpustakaan  sekolah,
3. Terbatasnya sumber daya manusia, dan bahkan amat terbatasnya sumber daya manusia yang mampu mengelola perpustakaan serta mengembangkannnya    sebagai sumber belajara bagi siswa dan guru,
4. Lemahnya koleksi perpustakaan sekolah. Pada umumnya perpustakaan sekolah terdiri dari buku pelajaran yang merupakan droping dari pemerintah,
5. Minat baca siswa yang masih belum menggembirakan, walaupun pemerintah    telah mencanangkan berbagai program seperti bulan buku nasional, hari aksara, wakaf buku dan sebagainya,
6. Kepedulian penentu kebijakan terhadap perpustakaan masih kurang, bahkan
    keberadaan perpustakaan hanya sebagai pelengkap,
7. Masih kurangnya sarana dan prasarana yang diperlukan termasuk dalam hal ini adalah ruang perpustakaan sekolah.
8. Belum adanya jam perpustakaan sekolah yang terintegrasi dengan kurikulum,
9. Kegiatan belajar mengajar belum memanfaatkan perpustakaan secara maksimal    dalam arti guru “tidak terlalu sering” memberikan tugas-tugas kepada siswa yang terkait dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah.

Untuk mengatasi masalah tersebut perpustakaan memang perlu mendapat perhatian. Sekolah perlu melakukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat berjalan paling tidak sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Standar yang telah dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional memang perlu dijadikan acuan. Namun itu semua perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah.
Ada beberapa cara mengatasi atau boleh dikatakan menyiasati dari kondisi yang kurang mendukung. Misalnya masalah ruangan perpustakaan dan tenaga pengelola. Dengan segala keterbatasanya, banyak sekolah yang telah memiliki fasilitas ruang perpustakaan, namun juga banyak sekolah yang belum memiliki ruangan perpustakaan.
Untuk mengatasi masalah belum adanya ruang perpustakaan, koleksi di pindahkan ke kelas yang mencerminkan kebutuhan kelas dan dibawah pengawasan wali kelas. Pada kondisi ini diperlukan kedisiplinan administrasi agar buku dapat dikontrol setiap saat. Siapa yang meminjam dan kapan harus kembali. Konsep perpustakaan kelas sudah diterapkan di beberapa sekolah yang tidak memiliki ruangan perpustakaan.
Masalah dana misalnya, dapat diatasi dengan mengadakan kerjasama dengan Komite Sekolah. Pengalaman kami ketika melakukan pembinaan perpustakaan sekolah dasar di Malang – Jawa Timur, hal tersebut kami terapkan. Kita perlu mengadakan pendekatan dengan Komite Sekolah dan menyampaikan program-program sekolah termasuk didalamnya adalah program pengembangan perpustakaan.    Perpustakaan perlu mendapat dukungan dana tetap dari Komite Sekolah sehingga koleksinya dapat ditambah setiap periode tertentu. Tanpa ada penyegaran koleksi perpustakaan menjadi kering dan kurang menarik minat siswa untuk datang dan memanfaatkannya.
Beberapa pakar bidang perpustakaan mengatakan mendirikan perpustaakaan itu mudah, tetapi untuk menjaga kelangsungnya diperlukan kerja serius dengan program yang jelas dan terarah. Karena dalam pelaksanannya banyak tantangan dan itu harus diatasi agar perpustakaan terus dapat berfungsi sebagai sumber belajar.

B. Strategi Pengembangan Perpustakaan Sekolah
Melihat fungsi perpustakaan yang demikian penting dan melihat kenyatan bahwa pengelolaan perpustakaan sekolah belum berjalan dengan baik, untuk itu diperlukan srategi pengembangan perpustakaan sekolah dengan baik. Tentunya pengembangan perpustakaan sekolah harus berangkat dari inisiatif sekolah itu sendiri.

Adapun pengembangan perpustakaan sekolah meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Status organisasi, perlu ada pemantapam status organisasi atau kelembagaan  perpustakaan sekolah,
2. Pembiayaan, perlu adanya anggaran yang memadahi yang dapat digunakan untuk operasional perpustakaan sekolah,
3. Gedung dan atau ruang perpustakaan, perlu ada ruangan yang representatif sehingga keberadaan perpustakaan sekolah mampu menunjang kegiatan KBM di sekolah,
4. Koleksi bahan pustaka, koleksi bahan pustaka perlu disesuaikan dengan kebutuhan  minimun sekolah yang mengacu pada kurikulum dan kegiatan ekstra kurikuler si sekolah.
5. Peralatan dan perlengkapan, perlu disesuiakn dengan kebutuhan perpustakaan sekolah    sehingga perpustakaan dapat berjalan dengan baik
6. Tenaga perpustakaan, mempunyai kualifikasi yang memadahi untuk pengelolaan perpustakaan sekolah.
7. Layanan perpustakaan, disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Jika mungkin ada layanan diluar jam-jam belajar siswa, sehingga siswa dapat memanfaaatkan perpustakaan dengan baik.
8. Promosi, erlu dilakukan dengan berbagai cara agar perpustakaan menarik bagi siswa.

C. Peluang Pengembangan Perpustakaan Sekolah

Dari berbagai jenis perpustakaan memang perpustakaan sekolah paling banyak mendapat sorotan, karena dinilai oleh banyak pihak masih perlu mendapat perhatian. Hal senada pernah dinyatakan oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI bahwa perpustakaan sekolah perlu mendapat perhatian dari pihak yang berkompeten, karena secara umum keberadaanya belum berfungsi sebagaimana mestinya. Sebenarnya peluang untuk lebih memberdayakan perpustakaan telah terbuka.

Beberapa kondisi yang saat ini dapat mendukung pengembangan perpustakaan sekolah telah ada seperti:
1. Adanya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang  merupakan dasar pijkakan kita dan memungkinkan semua lembaga pendidikan formal didukung oleh sarana dan prasarana (termasuk perpustakaan),
2. Adanya Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Pemberlakuan kurikulum Tahun 2006 tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi (KTASP) yang menuntut guru untuk mengembangkan indikator pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Untuk iu sekolah perlu didukung dengan perpustakaan secara memadai.
4. Adanya metode pengajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Dalam metode ini siswa dituntut untuk mengembangkan, dan memperdalam sendiri materi yang telah disampaikan oleh guru. Dalam kondisi ini maka peran perpustakaan sangat besar untuk membantu siswa dalam memperkaya kasanah pengetahuannya,
5. Adanya kebijakan permerintah untuk menggalakkan minat baca dengan mengambil even-even tertentu seperti tanggal 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional dan sekaligus sebagai even bulan buku, tanggal 14 September sebagai hari Aksara Internasional, momentum ini sekaligus dimanfaatkan sebagai bulan gemar membacadan hari kunjung perpustakaan, 28 Oktober sebagai hari Sumpah Pemuda dan sekaligus bulan bahasa. Kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan perpustakaan, Momen ini sangat baik untuk kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan serta pengembangan minat baca siswa,
6.    Kebijakan pemerintah/pemerintah daerah untuk memberikan subsidi buku baik buku pelajaran maupun buku bacaan kepada setiap sekolah,
7.      Tumbuhnya berbagai partisipasi masyarakat yang berkaitan dengan minat baca,
     perbukuan, dan perpustakaan, seperti Gerakan Waqaf Buku, Kelompok Masyarakat Pecinta Buku (KMPB), Klub Perpustakaan, dan Kelompok Pecinta Bacaan Anak.
         Jika perpustakaan sekolah akan difungsikan sebagai penunjang proses belajar siswa,  maka perlu ada upaya untuk lebih mendayagunakan perpustakaan tersebut.


 cara untuk lebih memberdayakan keberadaan perpustakaan di lingkungan sekolah:
1. perlu upaya untuk menciptakan “penguatan kelembagaan” terhadap perpustakaan
    sekolah,
2. perlunya diciptakan pengajaran yang terkait dengan pemanfaatan fasilitas yang   tersedia di perpustakaan,
3. perlu upaya melibatkan guru dalam pemilihan koleksi perpustakaan yang akan dibeli, sehingga guru tahu koleksi yang demiliki perpustakaan,
4. promosi dan pemasyarakatan perpustakaan dengan mengambil even-even khusus seperti pada hari peringatan nasional,
5. perlu diupayakan adanya jam belajar di perpustakaan, sehingga siswa terbiasa memanfaatkan perpustakaan,
6. perlunya pemberian rangsangan kepada siswa agar termotivasi untuk memanfaatkan perpustakaan, misalnya penghargaan terhadap siswa yang meminjam buku paling banyak dalam kurun waktu tertentu.

D. Perpustakaan  Yang Ideal
Perpustakaan sekolah yang baik memang bersifat relatif, namun demikian bukan berarti kriteria tersebut tidak bisa dirumuskan sama sekali. Sifat relatif ini disebabkan oleh kondisi dari sekolah yang sangat beragam. Ada sekolah yang mempunyai sarana yang lengkap sedangkan pada sisi lain masih ada sekolah yang sarana pendukungnya kurang lengkap.

Beberapa kriteria dari "perpustakaan sekolah yang ideal" yang dapat berfungsi sebagai sumber belajar siswa secara memadai.
1. adanya status kelembagaan yang kuat dari perpustakaan,
2. struktur oraganisasi perpustakaan jelas dan berjalan dengan baik,
3. memiliki ruangan yang memadai sesuai dengan jumlah siswa, bersih, dan   penyinaranya cukup,
4. memiliki tempat baca yang memadai,
5. miliki perabot perpustakaan secara memadai,
6. partisipasi pemakainya (siswa dan guru) baik dan aktif,
7. jenis koleksinya mencerminkan komposisi yang baik antara buku teks dengan buku
    fiksi, yaitu 40% untuk buku teks, 30% buku-buku pengayaan, dan 30% buku fiksi serta judul buku yang dimiliki bervariasi,
8. koleksi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan kurikulum sekolah,
9. memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai,
10. pengorganisasian koleksinya teratur,
11. didukung dengan teknologi informasi dan komunkasi
12. administrasi perpustakaanya tertib yang meliputi administrasi keanggotaan, administrasi inventaris buku dan perabot, peminjaman, penyusutan, penambahan buku, statistik peminjaman,
13. memiliki sarana penelusuran informasi yang baik
14. memiliki peraturan perpustakaan,
15. memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah,
16. memiliki program keberaksaraan informasi (literasi infomasi)
17. memiliki program pengembangan minat membaca dikalangan siswa,
18. memiliki program mitra perpustakaan,
19. melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan,
20. kegiatan perpustakaan terintegrasi dengan kurikulum dan kegiatan belajar,
21. memiliki anggaran perpustakaan secara tetap,
22. adanya kerjasama dengan sekolah lain,
23. pelayanannya menyenangkan,
24. ada jam perpustakaan sekolah yang terintegrasi dalam kurikulum..
Parameter di atas tentunya tidak bisa diterapkan disemua sekolah, karena masingmasing sekolah kondisinya tidak sama. Dengan parameter tersebut pihak sekolah dapat mengembangkan perpustakaan sekolah secara ideal.


Fungsi/ peranan perpustakaan di Perguruan tinggi yang baik adalah sebagai berikut :
a.         Menyediakan buku-buku, majalah, dan bahan-bahan lain oleh para mahasiswa untuk perkuliahannya
b.        Menyediakan bahan-bahan penunjang dalam pengajaran dan penelitian oleh staf mengajar untuk mata kuliah yang diajarkannya. Kalau erlu meminjamkan ke perpustakaan lain jika perpustakaan sendiri tidak memilikinya
c.         Menyediakan bahan bacaan seperti : buku dan majalah, tidak saja dipakai dalam kelas atau teks, tetapi juga bahan-bahan lain yang jelas sifatnya serta bahan-bahan untuk mengembangkan hobby dn bahan-bahan hiburan
d.        Memenuhi keperluan yang lebih khusus yang disediakan oleh kekhususan suatu perguruan tinggi, bahan-bahan yang akan diperlukan oleh mahasiswa dalam praktik keguruan, penelitian, kebudayaan daerah, dimana perguruan tinggi itu berada, serta buku-buku petunjuk dimana bahan-bahan itu bias didapat.
e.         Membantu mahasiswa berkenalan dengan kesusastraan anak, alat-alat pandang ( audio, visual ) serta memberikan pengarahan dalam pengembangan suatu perpustakaan sekolah
f.         Membantu para mahasiswa untuk keperluan sehari-hari akan informasi tentang daerah, statistic dan alamat-alamat serta tempat bahan-bahan yang akan diperlukan dalam praktik yang tersedia di perustakaan-perpustakaan lain di daerahnya
g.        Bertindak sebagai penghubung mahasiswa dengan perpustakaan lain
h.        Menyediakan kesempatan untuk mahasiswa dalam meltih menggunakan buku-buku dari perpustakaan sebagai modal  pertama bagi mereka akan melaksanakan tugas disekolah-sekolah lainnya
i.          Membuat buku pedoman perpustakaan, daftar-daftar penambahan buku, daftar bacaan untuk matakuliah tertentu dengan mengadakan pameran koleksi perpustakaan, baik di dalam maupun di luar kampus, suaya khalayak mengetahui bahan-bahan yang tersedia di perpustakaan yang dapat dipergunakan dalam proses belajar mengajar.

Jenis Koleksi Perpustakaan Dalam Pusat Sumber Belajar
   Koleksi perpustakaan disusun berdasarkan fungsi, subjek, atau berdasarkan kombinasi keduanya. Pembagian koleksi berdasarkan fungsi, membuat ruangan-ruangan perpustakaan dibagi atas daerah-daerah dengan tujuan pelayanan, yakni sebagai berikut

1.        Ruang sirkulasi
   Bila anda memasuki sebuah lobi perpustakaan hal yang pertama terlihat adalah meja sirkulasi. Disini akan mencetak buku-buku yang akan dibawa pulang dengan memperlihatkan kartu pengenal. Prosedur peminjaman diatur dalam buku pedoman perpustakaan pada masing-masing lembaga. Pedoman ini menjelaskan jam buka perpustakaan, lama peminjaman buku yang di izinkan, tata tertib peminjaman, dan lain –lain. Di ruang ini juga cabinet catalog yang berisi kartu-kartu yang berfungsi sebagai indeks semua buku yang terdapat diperpustakaan tersebut.

2.        Ruang reserve
   Ruang reserve ini berisi buku-buku dan bahan-bahan untuk mata pelajaran/mata kuliah tertentu yang diminta oleh para guru/dosen agar disediakan untuk keperluan siswa/ mahasiswa. System reserve ini diciptakan untuk melayani kebutuhan dimana seorang guru/dosen mungkin menugaskan siswa/mahasiswa yang jumlahnya mungkin ratusan orang membaca sebuah artikel atau bab tertentu dari sebuah buku.
   Karena jumlah siswa/ mahasiswa banyak membutuhkannya maka perpustakaan pasti tidak mampu memberi buku sejumlah siswa/ mahasiswa yang membutuhkan untuk membaca artikel atau bab yang dimaksud. Mahasiswa yang bersangkutan pergi ke ruang reserve meminta buku tersebut. Menanda tangani pinjamannya untuk satu atau dua jam membaca disana. Dengan cara begini semua mahasiswa mendapat kesematan yang sama untuk menyelesaikan tugas-tugas bacanya.
        Beberapa perpustakaan mengizinkan buku-buku reserve tersebut dipinjam untuk satu malam, selama akhir minggu, atau selama dalam perpustakaan ditutup. Peminjaman cara begini dilakukan pada hari ketika perpustakaan itu dibuka kembali. Keterlambatan pengembalian akan dikenakan denda yang berat.

3.        Ruang referensi
   Buku-buke referensi yang terdapat di ruang referensi adalah bahan sumber-sumber untuk fakta-fakta tertentu. Apa yang terjadi di London tahun 1963 ? berapakah berat atom dari lithium ? berapa jumlah orang buta huruf di amerika ? siapa pemenang hadiah nobel tahun 1972 ? apakah kata-kata anda dapatdipakai dalam penulisan ilmiah ?
  Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan terdapat dalam buku-buke referensi : ensiklopedia, buku pegangan, kamus, atlas, indeks, statistic, abstrak, biografi, dan lain-lain. Karena buku-buku ini biasanya mahal, dan dibutuhkan oleh banyak orang maka buku0buku ini tidak boleh dipinjam keluar perpustakaan walaupun dalam waktu yang singkat.
Beberapa buku referensi malah merupakan indeks dari bahan-bahan lain, seperti indeks tesis, indeks skripsi, indeks artikel majalah , indeks-indeks hasil penelitian dan sebagainya.

4.        Ruang majalah
    Perpustakaan – perpustakaan kecil sering menyimpan majalah, surat kabar, dan pamphlet di ruang referensi. Akan tetapi pada perpustakaan-perpustakaan besar menyimpan majalah-majalah, surat kabar, dan penerbitan berkala lainnya merupakan tempat yang ideal untuk melihat-lihat bahan bacaan, membaca untuk kesenangan, dan membaca studi.


5.        Ruang AVA
   Di ruangan ini disediakan bahan-bahan audio visual, diman terdapat berbagai mesin untuk mendengar dan melihat/ menonton. Di beberapa perpustakaan terdapat pula pusat-pusat bahan AVA di mana mahasiswa dapat bekerja untuk menyelesaikan suatu proyek atau tugas pengajaran.
   Pembagian koleksi berdasarkan subjek. Beberaa perpustakaan memunyai buku dan bahan non buku dalam jumlah yang sangat besar, sehinga rumit menempatkannya pada suatu ruangan/daerah. Cara pemecahannya adalah dengan membagi bahan-bahan tersebut atas bagian ilmu pengetahuan seperti pembagian universitas/istitut ke fakultas-fakultas. Suatu pembagian yang tipikal adalah membagi ruangan-ruangan perpustakaan, ilmu-ilmu social, sains dan engineering, bisnis dan industry. Ruangan – ruangan lainnya mungkin bahan-bahan dokumen, surat kabar dan sebagainya.
  Dengan pembagian ini setiap pembagian merupakan sebuah perpustakaan terpisah/tersendiri-sendiri, berisi semua buku di dalam perpustakaan yang disusun menurut fungsinya. Buku-buku ini disusun berdasarkanklasifikasi persepuluhan Dewey atau UDC atau Library of Congres.

E. Pengembangan Kebiasaan Membaca melalui Perpustakaan Sekolah
Untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sumber belajar perlu diciptakaan atmosfir sekolah yang menunjang. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah adanya pengembangan program kebiasaan membaca untuk menumbuhkan minat membaca siswa. Diharapkan penyediaan sarana untuk peningkatan kegemaran membaca siswa akan berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan membaca. Keterampilan membaca dan dan kegemaran membaca memiliki hubungan yang saling mendukung.
Upaya-upaya peningkatan minta membaca perlu dilakukan baik oleh guru dengan tujuan agar siswa mempunyai kemauan untuk melakukan kegiatan membaca sesering mungkin di luar kelas. Pada lingkungan sekolah perpustakaan mempunyai peran yang sangat strategis dalam hal penyediaan fasilitas untuk meningktkan minat baca siswa. Minat dan kegemaran membaca tidak dengan sendirinya dimiliki oleh seseorang, termasuk anak-anak dalam usia sekolah. Minat baca dapat tumbuh dan berkembang dengan cara dibentuk.
Dalam kaitan ini dapat kita simak teori rangsangan dan dorongan. Dorongan adalah daya motivasional yang mendorong lahirnya perilaku yang mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Dorongan yang dimaksud adalah motivasi tidak hanya untuk perilaku tertentu saja, melainkan perilaku apa saja yang berkaitan dengan kebutuhan dasar yang diinginkan seseorang. Dorongan-dorongan tersebut dapat muncul dari dalam diri orang tersebut atau dapat dirangsang dari luar. Memperhatikan asal dari dorongan untuk berperilaku, dapat diprediksikan bahwa minat dan kegemaran membaca itu timbul dalam diri anak maupun dari orang-orang lain di lingkungan sekitar.
Oleh sebab itu upaya untuk mengangkat program peningkatan minat dan kegemaran membaca perlu melibatkan unsur-unsur berikut ini:
a. anak didik pada semua jenjang SD, SLTP, SLTA,
b. guru sekolah, kepala sekolah, pengawas sekolah,
c. sekolah dengan berbagai program kegiatan yang dapat menunjang pengkondisian  tumbuhnya minat dan kegemaran membaca,
d. orang tua di rumah,
e. lingkungan masyarakat di luar sekolah dan rumah,
f. lembaga-lembaga masyarakat yang berminat terhadap pengembangan minat dan kegemaran membaca, misalnya dengan mendirikan pondok baca,
g. pemerintah melalui berbagai program yang dikembangkan, seperti adanya kegiatan   bulan buku nasional pada setiap bulan Mei, hari Aksara Internasional pada setiap bulan September, hari kunjung perpustakaan yang jatuh pada bulanSeptember, kegiatan tersebut bisa dikaitkan dengan pembinaan minat dankegemaran membaca.
Motivasi yang berasal dari anak merupakan dorongan yang bersifat internal, sedangkan dorongan dari pihak lainnya bersifat eksternal. Dengan kata lain bila akan merumuskan strategi peningkatan minat dan kegemaran membaca anak didik maka dua model strategi tersebut patut dipertimbangkan, yaitu model strategi yang didasarkan pada motivasi internal dan model yang digerakkan oleh motivasi eksternal.
Sekurang-kurangnya terdapat tiga dimensi pengembangan minat dan kegemaran membaca yang perlu dipertimbangkan yaitu:

1. Dimensi edukatif pedagogik
Dimensi ini menekankan tindak-tindak motivasional apa yang dilakukan para guru di kelas, untuk semua bidang studi yang akhirnya para siswa tertarik dan memiliki minat terhadap kegiatan membaca untuk tujuan apa saja. Paradigma pengajaran saat ini adalah berpusat pada anak didik, maka pengembangan minat baca hendaknya dimulai dari aktivitas belajar sehari-hari di kelas.

2. Dimensi sosio kultural
Dimensi ini mengandung makna bahwa minat baca siswa dapat digalakkan berdasarkan hubungan-hubungan sosial dan kebiasaan anak didik sebagai anggota masyarakat. Misalnya dalam masyarakat paternalistik, orang tua atau pemimpin selalu menjadi panutan. Dalam hal ini jika yang dijadikan panutan memiliki minat baca maka dapat diprediksi bahwa anak juga dengan sendirinya terbawa situasi tersebut, artinya anak akan memiliki sikap dan kegemaran membaca.

3. Dimensi perkembangan psikologis
Anak usia sekolah pada jenjang SD/SMP/SMU merupakan usia anak praremaja. Tahap pertengahan masa anak-anak didominasi dengan fungsi pengamatan, fungsi rasa ingin tahu yang cukup kuat. Pada masa ini perlu dipertimbangkan secara sungguh-sungguh dalam upaya memotivasi kegemaran membaca siswa. Pengamatan membaca yang jitu biasanya melalui ilustrasi gambar. Penalaran intelektual mudah dirangsang melalui diskripsi yang dikotomis, argumentasi yang menggugah.
Peran perpustakaan sangat sentral dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca. Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan tersedianya bahan bacaan yang memadai baik dalam segi jumlah maupun dalam kualitas bacaan. Pada aspek lain minat baca senantiasa perlu dikembangkan. Di lingkungan anak usia sekolah usaha pengembangan minat baca dapat dilakukan dengan prinsip jenjang dan pikat.
Prinsip pertama perlu adanya usaha untuk memikat pengguna untuk mulai menyenangi kegiatan membaca. Prinsip kedua perlu ada upaya untuk mengkondisikan perlunya penyediaan meteri bacaan yang sesuai dengan perkembangan anak yang dapat memperkuat minat baca anak, yang senantiasa terus mendorong anak untuk maju menuju pada kegiatan membaca yang berkualitas.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kegemaran membaca siswa melalui perpustakaan adalah:
a. Menyediakan bahan bacaan yang diminati siswa, yang sesuai dengan keragaman  tingkat perkembangan anak.
b. Menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa melalui penataan yang bagus, dengan pelayanan yang ramah,
c. Membuat promosi dan kegiatan pengembangan minat dan kegemaran membaca dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah,
d. Memberikan tugas tambahan kepada siswa di luar kelas. Pemberian tugas tambahan ini tentunya berkaitan dengan terbatasnya jam pelajaran di dalam kelas. Oleh sebab itu guru sebaiknya senantiasa mendorong siswa untuk lebih banyak membaca di luar jamjam sekolah (di rumah). Tugas membaca dapat dipantau dengan membuat laporan, resensi buku, atau membuat laporan garis besar isi buku yang telah dibacanya (sinopsis) dengan memanfaatkan bacaan yang tersedia di perpustakaan,
e. Tersedianya waktu bagi siswa untuk berkunjung ke perpustakaan baik secara perseorangan maupun klasikal yang sekaligus merupakan jam belajar di perpustakaan.
f.  Mengintegrasikan perpustakaan dalam kegiatan belajar mengajar
G. KESIMPULAN
Dari uraian yang serba ringkas tersebut dapat ditarik benang merah bahwa dalam lingkungan sekolah, kegiatan belajar perlu didukung oleh sarana yang memadai, salah satunya adalah perpustakaan sekolah yang berfungsi sebagai sumber belajar siswa. Sebagai sumber belajar perpustakaan sekolah mengemban beberapa fungsi yang amat fital.
Fungsi perpustakaan tersebut akan dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh beberapa hal seperti pengembangan koleksi yang sesuai, organisasi dan penguatan kelembagaan perpustakaan, pelayanan, penyediaan sarana dan prasarana, serta program promosi dan pengembangan perpustakaan. Keberadaan perpustakaan sekolah perlu ditangani secara baik dan memadai. Untuk itu diperlukan kemauan dari berbagai pihak untuk mengembangkannya yaitu penentu kebijakan pada tingkat departemen, tingkat daerah, tingkat sekolah (kepala sekolah, guru, dan pengelola perpustakaan).

























0 komentar:

Poskan Komentar